Rajin, gemar, suka dan senang membaca sejatinya adalah budaya Islam. Membaca dalam arti untuk ibadah, amalan-amalan, pendidikan, pembelajaran, ilmu, pengetahuan, intelektual, kecerdasan, wawasan, nalar, dan untuk keselamatan serta kebahagiaan dunia akhirat, dsb.
Budaya rajin atau gemar membaca adalah milik umat Islam. Memang seharusnya budaya ini milik kita umat Islam. Sebab Al Qur-an dan As Sunnah yang mengajarkannya. Tapi apa yang terjadi, yang tidak rajin dan tidak gemar membaca dalam arti menambah ilmu pemgetahuan. Bukan masyarakat umum umat Islam, bahkan siswa, mahasiswa, guru/dosen, pemimpin, pejabat Islam pun tidak rajin dan tidak gemar membaca. Sehingga mereka tidak mampu untuk bersaing, mengejar dan mengungguli umat lain, masyarakat dan bangsa lain dalam beberapa bidang ilmu dan pengetahuan.
Menurut Kepala Biro Komunikasi Layanan Masyarakat (BKLM) Kemendukbud, Asianto Sinambela, ”Berdasarkan survei UNESCO, badan PBB minat baca masyarakat Indonesia (sangat rendah) baru 0,001%. Artinya dalam seribu masyarakat hanya ada 1 (satu) orang yang memiliki minat baca.. Minat baca literasi (huruf/aksara) masyarakat Indonesia masih sangat tertinggal dari negara lain. Dari 61 negara, Indonesia menempati peringkat 60 (satu tingkat di atas juru kunci, paling buncit)”. Sungguh memprihatinkan sekali ….. !!!

Leave a Reply

%d bloggers like this: